Jump directly to the Content

News&Reporting

Umat Kristen di Nepal Tidak Dapat Memakamkan Jenazah Orang Kristen

Kisah perjuangan kaum Injili di Lembah Kathmandu untuk mendapatkan pemakaman dan menghindari kremasi.
|
English
Umat Kristen di Nepal Tidak Dapat Memakamkan Jenazah Orang Kristen
Image: Binod Joshi / AP Images
Pemakaman di hutan sebelah kuil Hindu Pashupatinath di Kathmandu, Nepal.

Kematian di rumah orang Kristen di Lembah Kathmandu membawa lebih dari sekadar kesedihan. Hal itu juga merupakan awal perjuangan keluarga dalam mencari cara untuk mengucapkan selamat tinggal secara bermartabat kepada orang yang mereka cintai.

Kendala terbesar bagi keluarga yang berduka adalah menemukan tempat untuk memakamkan jenazah di Lembah Kathmandu, sebuah wilayah di Nepal tengah yang merupakan rumah bagi tiga kota terbesar di negara pegunungan itu dan ratusan kota serta desa yang lebih kecil. Namun terlepas dari luasnya, wilayah ini tidak memiliki pemakaman umum bagi masyarakat yang beragama Kristen, yang jumlahnya lebih dari 100.000 menurut laporan Survei Komunitas Kristen Nasional yang dirilis pada Desember 2022. (Pemakaman Inggris di Kathmandu hanyalah sisa peninggalan ekspatriat, dan pemakaman Jesuitnya tidak lagi digunakan.)

“Kami dapat mengkremasi jenazah orang Kristen, tetapi kami tidak dapat memakamkannya,” kata Suman Dongol, yang mengelola gereja Koinonia Patan di Kathmandu.

Umat Hindu, yang terdiri dari 81 persen dari populasi, mengkremasi jenazah orang Hindu. Umat Muslim Nepal memiliki akses ke dua pemakaman yang terhubung dengan masjid mereka di Kathmandu. (Di antara mereka yang mengikuti kepercayaan asli adalah Kirat, yang terdiri dari 3 persen dari populasi Nepal dan dikatakan sebagai penghuni paling awal di Lembah Kathmandu. Mereka biasanya memakamkan orang yang meninggal tetapi menghadapi nasib yang sama seperti umat Kristen setempat.)

Pada tahun 1951, ketika Nepal modern didirikan dan pemerintahan awal ini melarang penginjilan dan pindah agama, tak satu pun orang Kristen yang ada di negara itu. Namun, setahun kemudian, orang Kristen Nepal dari India mendirikan gereja Protestan pertama.

Pada awal tahun 1970-an, ada sekitar 500 orang Kristen dibaptis di Kerajaan Hindu ini. Upaya penginjilan membawa kemungkinan ancaman hukuman pidana tiga tahun penjara—dan upaya penginjilan yang berhasil, diancam hukuman penjara enam tahun—tetapi umat Kristen terus memberitakan tentang Yesus. Pada tahun 1990, ketika gerakan reformasi demokrasi mendekriminalisasi pindah agama, diperkirakan sudah ada 50.000 orang Kristen di Nepal.

Menurut sensus tahun 2011, umat Kristen di Nepal mencapai 1,4 persen dari populasi, tetapi sejak monarki Hindu yang berusia 240 tahun itu berakhir pada tahun 2008, Nepal telah menyaksikan lonjakan besar dalam jumlah tersebut. Menurut laporan baru-baru ini, pada dekade terakhir telah terlihat adanya peningkatan 68 persen dalam jumlah total orang Kristen, yang saat ini diperkirakan sekitar 3,5 persen dari jumlah penduduk Nepal yang hampir mencapai 31 juta jiwa.

Tidak semua orang Kristen Nepal tidak memiliki akses ke lahan pemakaman. Pemerintah setempat telah menyediakan pemakaman bagi umat Kristen yang tinggal di Biratnagar, di bagian timur Nepal, dan orang-orang di Butwal di selatan.

Pemakaman di wilayah-wilayah tersebut telah membuat orang-orang yang menyaksikannya menjadi terkagum-kagum.

“Ada 500 orang yang hadir, mereka semua bernyanyi dengan membawa bunga, berjalan melewati hutan, dan memakamkan orang yang mereka cintai dengan cara yang sangat bermartabat,” kata Dilli Ram Paudel, sekretaris jenderal Nepal Christian Society.

“Hanya di Lembah Kathmandu sajalah umat Kristen tidak memiliki lahan pemakaman,” kata Manoj Pradhan, seorang pemimpin di Nepal Christian Fellowship.

Bagi banyak orang Kristen, tidak ada kuburan berarti tidak ada pemakaman. Akibatnya, selama bertahun-tahun, umat Kristen mencari berbagai solusi untuk masalah pemakaman yang mereka hadapi. Menurut laporan, umat Kristen mulai menguburkan jenazah orang Kristen di hutan dekat kuil bersejarah, yaitu Kuil Hindu Pashupatinath, pada April 1990. Namun pada tahun 1998, pemerintah melarang semua penguburan di sana setelah kuil tertua di negara itu ditetapkan sebagai situs warisan UNESCO dan umat Hindu yang beribadah di sana mengklaim hutan itu sebagai milik mereka.

Setelah protes keras dari komunitas Kristen, pada tahun 2009, pihak berwenang memberikan akses kepada umat kristiani untuk memakamkan jenazah orang Kristen di hutan Shleshmantak. Namun kebijakan itu berumur pendek; setelah protes yang terjadi di penjuru negeri dari komunitas Hindu, pemerintah memberlakukan kembali larangan tersebut pada tahun 2011.

“Menurut kebiasaan budaya, kami mendirikan salib atau batu nisan di atas makam, tetapi mereka tidak menyukainya,” kata Paudel. “Ini adalah situs warisan bagi umat Hindu, dan kami memahami sikap mereka.”

Komunitas Kristen melakukan beberapa upaya untuk mendapatkan lahan pemakaman di Lembah Kathmandu dari tahun 2008 hingga Nepal mengadopsi konstitusi baru pada tahun 2015. Umat Kristen di dua distrik berbeda bahkan telah membeli lahan, tetapi menghadapi tentangan dari kaum fundamentalis Hindu dan pemerintah yang tidak mendukung.

“Sekarang tidak ada yang bisa pergi ke sana dan mengadakan pemakaman,” kata B.P. Khanal, koordinator International Panel of Parliamentarians for Freedom of Religion or Belief.

Pada tahun 2011, tantangan-tantangan ini mendorong umat Kristen untuk melakukan mogok makan sampai pemerintah berjanji untuk menyediakan lahan pemakaman bagi mereka. Namun 12 tahun setelah perjanjian ini, pemerintah belum juga menepati janjinya dan mendedikasikan lahan pemakaman untuk umat Kristen.

Umat Katolik Nepal tidak berpartisipasi dalam protes tahun 2011 dan telah mengadopsi apa yang mereka yakini sebagai solusi paling praktis untuk dilema ini.

“Umat Katolik telah menerima kenyataan bahwa di negara seperti Nepal, di mana pemakaman tidak lazim dilakukan, maka jenazah perlu dikremasi setelah Misa dan abunya harus disimpan di kolumbarium. Ketiga gereja Katolik di Lembah Kathmandu telah melakukannya selama bertahun-tahun,” kata Chirendra Satyal, juru bicara dari Apostolic Vicariate of Nepal, kepada UCA News dalam sebuah wawancara pada tahun 2021.

Kaum Injili mengatakan bahwa mereka hanya mengikuti apa yang telah mereka pelajari dari generasi orang percaya sebelumnya.

“Semua orang harus dimakamkan. Kami telah mendengar hal ini berulang kali, dan ini adalah tradisi yang diikuti umat Kristen di seluruh dunia,” kata Khanal.

“Solusi” lainnya dari persoalan pemakaman ini juga malah membuat umat Kristen frustrasi.

“Kami membeli tanah pribadi di banyak tempat di sisi lembah untuk memakamkan orang Kristen yang meninggal, tetapi penduduk desa keberatan dengan hal itu. Mereka mengatakan bahwa dengan adanya pemakaman di dekat desa membuat mereka takut akan hantu. Setiap kali kami mencoba memakamkan seseorang, kami harus meminta penjagaan dari pihak kepolisian, ”kata Paudel.

Mayoritas orang Kristen Injili di Nepal terpaksa mengkremasi orang-orang yang mereka kasihi atau mereka harus menempuh jarak yang cukup jauh ke pemakaman lain di negara mereka—atau bahkan di India—untuk melakukan penguburan. Namun, beberapa di antaranya menegosiasikan perjanjian dengan gereja-gereja yang memiliki tanah makam pribadi.

”Masalahnya, tidak semua gereja memiliki lahan pribadi dan tidak semua gereja yang memiliki lahan pribadi memiliki akses untuk memakamkan jenazah. Komunitas [penduduk desa dan tetangga] biasanya tidak mengizinkan kami untuk memakamkan,” kata Dongol.

Meskipun demikian, banyak orang Kristen yang masih mau menanggung risiko kemarahan masyarakat sekitarnya.

“Kami harus bersembunyi di dalam hutan dan melaksanakan ritual pemakaman yang tenang, dengan sangat sedikit orang yang hadir, menyembunyikan proses pemakamannya dan melakukan semuanya secara diam-diam untuk menghindari pembalasan dari siapa pun,” kata Paudel. “Kami takut pada penduduk desa sekitar, pemerintah, dan polisi. Kami juga khawatir akan kemungkinan penggalian jenazah, jika penduduk desa mengetahui tentang penguburan itu. Semua ini sangat menyakitkan.”

Semua ini hanya berguna untuk “memusuhi umat Hindu tanpa alasan,” kata juru bicara Katolik Satyal.

“Banyak makam tanpa penanda, agar tidak terdeteksi. Lahan pemakaman digunakan sebagai tempat pembuangan sampah, dan terkadang rubah menggali mayat yang terkubur. Ada juga kasus mayat yang ditumpuk satu sama lain,” katanya dalam sebuah wawancara tahun 2011.

Mereka yang memilih kremasi harus bergantung pada umat Hindu untuk berbagi ruang kremasi mereka, karena umat Kristen tidak memiliki ruang sendiri. Umat Kristen juga menyesali kurangnya akses prosedur kayu bakar tradisional, karena banyak yang menganggap bahwa memakai mesin kremasi listrik itu tidak berperasaan dan keluarga menganggap hal itu membebani secara emosional karena cara dan kecepatannya dalam membakar tubuh.

Pandangan dan praktik umat Kristen yang sangat beragam terkait pemakaman telah menyulitkan mereka untuk mengajukan permohonan yang jelas kepada pemerintah.

“Jika umat Kristen bersatu untuk tujuan ini, masalah lahan pemakaman dapat diselesaikan,” kata seorang pendeta Protestan yang tidak ingin disebutkan namanya kepada UCA News.

Namun, untuk saat ini, lamanya tantangan soal pemakaman yang masih berlangsung ini telah semakin memperkuat perasaan terpinggirkan bagi banyak orang Kristen di Nepal.

“Sebagai warga negara, kami memiliki banyak hak, tetapi kami tidak dapat menggunakan hak-hak tersebut. Siapa yang akan memperjuangkan kami di hadapan pemerintah?” kata Pradan. “Tidak ada anggota parlemen atau anggota dewan legislatif Kristen yang mewakili kami dan yang bersedia berbicara untuk kami.”

Diterjemahkan oleh George H.S.

[ This article is also available in English. See all of our Indonesian (Bahasa Indonesia) coverage. ]

January/February
Support Our Work

Subscribe to CT for less than $4.25/month

Read These Next

close